Fenomena Aphelion Bukan Penyebab Cuaca Dingin di Indonesia, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Lingkanews.com | Banda Aceh — Setiap pertengahan tahun, masyarakat Indonesia sering mengaitkan cuaca dingin dengan fenomena langit tahunan bernama Aphelion. Namun, para ahli memastikan bahwa anggapan tersebut keliru. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Aphelion tidak menyebabkan penurunan suhu secara langsung di Indonesia.
Apa Itu Aphelion?
Dalam lintasannya mengelilingi Matahari, Bumi menempuh orbit berbentuk elips. Hal ini membuat jarak antara Bumi dan Matahari tidak selalu sama. Ketika Bumi mencapai titik terjauh dari Matahari, kita menyebutnya Aphelion.
Pada 4 Juli 2025, Bumi menempati posisi Aphelion dengan jarak sekitar 152 juta kilometer dari Matahari. Sebagai perbandingan, jarak rata-rata Bumi ke Matahari biasanya sekitar 149,6 juta kilometer. Meski berbeda jutaan kilometer, para astronom sepakat bahwa perbedaan ini tidak berdampak besar terhadap perubahan suhu global, apalagi ekstrem.
Apa Penyebab Udara Dingin di Indonesia?
Menurut BMKG, musim kemarau menjadi penyebab utama udara dingin di berbagai wilayah Indonesia, khususnya wilayah selatan khatulistiwa. Angin muson timur dari Australia membawa massa udara kering dan dingin. Saat angin ini melintasi perairan Indonesia yang bersuhu rendah, suhu udara pun ikut turun.
Selain itu, berkurangnya awan dan curah hujan memperkuat efek pendinginan ini. Saat malam hari, Bumi melepas panas ke atmosfer. Karena tidak ada awan yang menahan panas tersebut, suhu permukaan Bumi pun turun drastis. Kondisi ini membuat masyarakat merasakan hawa dingin, terutama pada dini hari hingga pagi.
Benarkah Aphelion Memengaruhi Cuaca?
BMKG dan NASA sama-sama menyatakan bahwa fenomena Aphelion tidak memberikan pengaruh langsung terhadap cuaca atau musim di Bumi. Kemiringan sumbu Bumi, bukan jarak ke Matahari, justru menjadi faktor utama penentu musim.
Saat Aphelion terjadi di bulan Juli, belahan Bumi utara condong ke arah Matahari. Karena itu, negara-negara di belahan utara mengalami musim panas yang lebih panjang. Sebaliknya, belahan selatan seperti Indonesia lebih menjauh dari Matahari, sehingga mengalami hari yang lebih pendek dan udara lebih sejuk.
Apakah Fenomena Ini Berbahaya?
Para ilmuwan menyebutkan bahwa Aphelion adalah peristiwa rutin dan tidak berbahaya. Setiap tahun, fenomena ini terjadi tanpa menimbulkan dampak besar. Yang berubah hanyalah jumlah sinar Matahari yang diterima tiap wilayah, itupun dalam skala kecil.
Astronom dari Planetary Science Institute, Kirby Runyon, menyatakan bahwa jika orbit Bumi berbentuk lingkaran sempurna, semua musim akan memiliki panjang yang sama. Namun, karena orbit berbentuk lonjong, musim panas di utara berlangsung lebih lama sekitar empat hari dibandingkan di selatan.
Jadwal Aphelion dan Perihelion Beberapa Tahun ke Depan
Tahun | Perihelion (Terdekat) | Aphelion (Terjauh) |
---|---|---|
2025 | 4 Januari | 4 Juli |
2026 | 4 Januari | 7 Juli |
2027 | 3 Januari | 5 Juli |
2028 | 5 Januari | 4 Juli |
2029 | 3 Januari | 6 Juli |
Kesimpulan: Aphelion Bukan Kambing Hitam Cuaca Dingin
Meskipun masyarakat sering mengaitkan cuaca dingin dengan posisi Bumi yang menjauh dari Matahari, penjelasan ilmiah membantah asumsi tersebut. Udara dingin di Indonesia lebih dipengaruhi oleh musim kemarau, angin monsun dari Australia, dan minimnya awan, bukan oleh Aphelion.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan hoaks atau informasi keliru mengenai fenomena alam ini. Pemahaman yang tepat akan membantu kita lebih siap menghadapi perubahan cuaca secara rasional dan tidak terpengaruh isu menyesatkan.
Sumber: BMKG, NASA, Forbes, Planetary Science Institute