Isa Alima Desak Pemko Pangkas Pohon Rawan Tumbang untuk Cegah Bencana
Lingkanews.com | Banda Aceh — Cuaca ekstrem kembali menyapu wilayah Banda Aceh dan sekitarnya sejak beberapa hari terakhir. Hembusan angin kencang menyertai hujan deras, menyebabkan sejumlah pohon tua tumbang. Sebagian di antaranya bahkan melintang di badan jalan, menimbulkan kemacetan dan mengancam keselamatan pengendara.
Fenomena ini memicu keprihatinan dari pemerhati sosial dan budaya Aceh, Drs. Isa Alima. Ia secara tegas meminta Pemerintah Kota Banda Aceh tidak tinggal diam. Menurutnya, langkah konkret harus segera diambil, khususnya terkait perawatan dan pemangkasan pohon-pohon besar di ruang publik.
Desakan untuk Langkah Preventif
Isa Alima menyoroti bahwa peristiwa serupa terjadi berulang kali, khususnya saat musim angin kencang tiba. Ia menilai kondisi ini bukan lagi sekadar musibah alam, melainkan kelalaian dalam pemeliharaan lingkungan kota.
“Setiap tahun kita melihat pohon tumbang, bahkan nyaris menimpa warga. Ini bukan lagi hal sepele. Pemerintah harus lebih tanggap,” ujarnya dengan nada serius.
Ia menyebut pemangkasan pohon harus menjadi rutinitas, bukan hanya tindakan reaktif setelah kejadian. Selain itu, pohon-pohon tua yang tumbuh dekat fasilitas umum perlu pengawasan khusus agar tidak menjadi sumber bahaya.
Isa juga menyoroti absennya sistem monitoring yang sistematis. Ia melihat belum ada peta pohon rawan tumbang, apalagi jadwal inspeksi rutin. Menurutnya, kondisi ini membuat kota rentan menghadapi kejadian serupa di masa depan.
Dorongan Pembentukan Tim Cepat Tanggap
Dalam pandangan Isa, penanganan pohon rawan tumbang tidak cukup jika hanya mengandalkan laporan masyarakat. Ia mengusulkan pembentukan tim cepat tanggap yang bekerja lintas instansi. Tim ini, kata Isa, bisa merespons secara langsung begitu laporan masuk.
“Jika kita hanya bergerak setelah pohon tumbang, maka sudah terlambat. Kita butuh tindakan sebelum bahaya datang,” tegasnya.
Isa mendorong kerja sama antara Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, Dinas Perhubungan, serta perangkat kecamatan dan gampong. Ia meyakini sinergi antar lembaga dapat mempercepat proses pemeliharaan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pelatihan teknis bagi petugas lapangan. Mereka harus bisa mengenali ciri-ciri pohon yang tidak sehat, seperti batang berlubang, akar rapuh, atau dahan kering yang menggantung.
Peran Masyarakat dan Pemimpin Lokal
Isa juga mengajak warga untuk terlibat aktif dalam pencegahan. Ia meminta masyarakat tidak ragu melaporkan keberadaan pohon yang tampak miring, lapuk, atau berpotensi tumbang.
“Masyarakat punya mata di lapangan. Mereka bisa jadi alarm awal yang menyelamatkan banyak orang,” katanya.
Tak hanya masyarakat, Isa pun menekankan peran penting para camat dan keuchik. Mereka harus menjadi jembatan komunikasi antara warga dan instansi pemerintah. Dengan begitu, permintaan pemangkasan atau penebangan pohon bisa segera diproses.
Isa menegaskan bahwa menjaga pohon bukan berarti membiarkannya tumbuh liar. Menurutnya, pohon yang tidak dirawat dapat berubah menjadi ancaman, meskipun awalnya berfungsi sebagai pelindung jalan dan penyerap polusi.
“Pohon rindang memang indah dan bermanfaat. Tapi kalau tidak dirawat, justru bisa mematikan,” ujarnya.
Menuju Kota yang Aman dan Rindang
Melalui seruan ini, Isa Alima berharap Pemko Banda Aceh segera mengevaluasi kebijakan perawatan pohon. Ia ingin agar kota ini tidak hanya hijau dan sejuk, tetapi juga aman dan tertib.
Ia menyatakan bahwa kejadian seperti ini bisa dihindari jika pemerintah dan warga saling mendukung. Dengan peta risiko, tim pemangkasan yang terlatih, serta sistem pengawasan yang aktif, risiko pohon tumbang bisa ditekan seminimal mungkin.
“Pencegahan jauh lebih murah daripada penanggulangan. Lebih baik kita bertindak sekarang daripada menyesal nanti,” tutupnya.
Isa menegaskan bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas utama. Dengan semangat gotong royong, ia yakin Banda Aceh dan Aceh Besar dapat menjadi wilayah yang tidak hanya asri secara visual, tetapi juga tangguh menghadapi bencana.