Ketegangan Memuncak di Perbatasan Thailand-Kamboja, Ratusan Warga Mengungsi
Lingkanews.com | Phnom Penh – Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat tajam sejak awal Juli 2025. Bentrokan bersenjata terjadi di sekitar wilayah kuil Preah Vihear yang selama ini menjadi titik sensitif dalam sengketa perbatasan. Kedua negara saling menuding sebagai pihak pemicu insiden, sementara ribuan warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk menghindari bahaya tembakan artileri.
Pasukan Thailand memperketat patroli di Provinsi Sisaket, sementara militer Kamboja mengerahkan tambahan infanteri dan artileri ringan di kawasan Preah Vihear. Ledakan mortir terdengar hingga radius lima kilometer dari garis demarkasi yang ditetapkan sejak putusan Mahkamah Internasional tahun 1962. Meskipun telah terjadi beberapa kali dialog bilateral, situasi di lapangan tetap memanas.
Kementerian Pertahanan Kamboja menyatakan bahwa pihaknya telah mengevakuasi lebih dari 1.800 warga desa di dekat perbatasan. Di sisi lain, pemerintah Thailand mengonfirmasi bahwa sekitar 1.200 warga dari wilayah Kantharalak telah dipindahkan ke lokasi pengungsian sementara yang disiapkan oleh tentara.
Korban Terus Bertambah, Rumah dan Fasilitas Rusak
Bentrokan yang terjadi selama dua pekan terakhir menimbulkan kerugian besar, baik dari sisi militer maupun sipil. Hingga Kamis, 24 Juli 2025, Kementerian Kesehatan Kamboja melaporkan sedikitnya 12 warga sipil tewas, termasuk dua anak-anak. Sementara itu, 26 orang lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar karena pecahan granat dan serpihan bangunan yang runtuh.
Di pihak Thailand, media lokal melaporkan delapan orang meninggal dunia, lima di antaranya adalah tentara yang terkena ledakan ranjau darat. Selain itu, lebih dari 40 orang mengalami luka serius dan sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit lapangan militer.
Kerusakan infrastruktur juga terlihat nyata. Sedikitnya 35 rumah warga hancur, tiga sekolah terbakar, serta satu klinik desa tak lagi berfungsi akibat tembakan mortir yang menghantam langsung bagian atap. Organisasi Palang Merah Kamboja turut menurunkan tim untuk distribusi bantuan medis dan logistik, sementara organisasi internasional menyerukan penghentian segera atas eskalasi kekerasan.
Upaya Diplomatik Terus Berjalan, ASEAN Turut Menengahi
Di tengah situasi yang terus memburuk, kedua negara tetap mengupayakan jalur diplomatik. Menteri Luar Negeri Thailand, Parnpree Bahiddha-Nukara, bertemu dengan mitranya dari Kamboja, Sok Chenda Sophea, di Bangkok untuk membuka ruang negosiasi damai. Pertemuan tersebut diinisiasi oleh Sekretariat ASEAN yang mengkhawatirkan dampak regional dari konflik ini.
Negosiasi sementara menghasilkan kesepakatan pembentukan zona aman di radius 3 kilometer dari titik konflik utama. Kedua belah pihak setuju untuk menarik pasukan secara bertahap dan membuka jalur komunikasi darurat di tingkat komandan lapangan.
Meski demikian, warga di sekitar zona konflik masih menaruh curiga atas kelanjutan perjanjian tersebut. Beberapa pengungsi yang ditemui tim relawan mengaku enggan kembali sebelum ada jaminan keamanan nyata dari kedua pemerintah. Mereka menekankan bahwa ini bukan kali pertama ketegangan terjadi, namun belum pernah ada penyelesaian menyeluruh yang menjamin perdamaian jangka panjang.