Gelar Ziarah Akbar ke Makam Habib Bugak: Teladani Ulama Pejuang Wakaf Aceh

Lingkanews.com | Bireuen – Puluhan jamaah haji tahun 2025 asal Matangkuli, Tanah Luas, dan wilayah sekitarnya menggelar ziarah akbar ke Makam Habib Bugak di Bireuen, Sabtu, 26 Juli 2025. Kegiatan ini tidak sekadar sebagai agenda religi, melainkan upaya nyata mempererat ukhuwah serta meneguhkan semangat meneladani perjuangan ulama terdahulu.

Habib Bugak Asyi, atau dikenal juga sebagai Habib Abdurrahman Al-Zahir, merupakan sosok ulama kharismatik dari Aceh yang mewakafkan hartanya demi kemaslahatan umat, termasuk wakaf tanah untuk rumah penginapan jamaah haji asal Aceh di Mekkah yang masih berfungsi hingga kini.

Ketua panitia, Tgk. H. Rusli Muhammad Yahya, menegaskan bahwa ziarah ini menjadi bagian dari rasa syukur atas kelancaran ibadah haji serta sarana menguatkan koneksi ruhani dengan para tokoh pejuang agama.

“Ziarah ini bukan sekadar kunjungan, tapi bentuk pengingat sejarah. Kita ingin menyambung mata rantai perjuangan Habib Bugak dan menumbuhkan kembali ruh dakwah serta kepedulian terhadap wakaf,” ujar Tgk. Rusli dalam sambutannya.

Rangkaian Acara: Dari Tadabbur Sejarah hingga Doa Bersama

Rombongan memulai perjalanan ziarah dari dua titik utama, yaitu Masjid Al Khalifah Ibrahim Matangkuli dan Masjid An-Nur Blangjruen, sejak pukul 07.30 WIB. Para peserta kemudian tiba di kompleks makam Habib Bugak sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disusun panitia.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan penuh khidmat oleh Tgk. H. Al Munawir. Suasana semakin haru ketika Tgk. H. Al-Fadhil Muhammad memaparkan sejarah perjuangan Habib Bugak, termasuk bagaimana beliau menggunakan kekayaannya untuk memberdayakan umat Islam, bahkan lintas generasi.

Puncak acara adalah pembacaan tahlil dan samadiah yang dipimpin oleh Abu Raja, Tgk. H. Muhammad Yusuf bin Mahmud. Dalam penyampaiannya, Abu Raja mengajak seluruh peserta untuk merenungkan makna perjuangan ulama sebagai warisan spiritual yang harus dijaga.

“Ziarah bukan hanya ritual, tapi perenungan. Ini adalah bukti bahwa kita masih peduli terhadap sejarah dakwah Islam. Semoga almarhum Habib Bugak mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” ucap Abu Raja dengan nada penuh keharuan.

Spirit Kebersamaan dan Pelestarian Nilai Keislaman

Tidak hanya bernuansa religi, kegiatan ini juga sarat akan semangat kebersamaan. Seusai rangkaian ziarah, para peserta mengikuti makan bersama yang dilanjutkan dengan shalat berjamaah dan sesi foto kolektif untuk mengenang momen penuh makna tersebut.

Dalam suasana hangat dan penuh rasa syukur, jamaah berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai kegiatan musiman semata. Mereka mengusulkan agar ziarah ke Makam Habib Bugak dijadikan agenda tahunan yang melibatkan lebih banyak masyarakat dari berbagai kecamatan.

Panitia juga membuka ruang diskusi ringan untuk membahas peran wakaf dalam konteks kekinian. Beberapa tokoh mengusulkan agar semangat wakaf produktif seperti yang dicontohkan Habib Bugak dihidupkan kembali, tidak hanya dalam bentuk aset fisik, tetapi juga melalui program pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat.

“Kita harus memikirkan wakaf secara strategis. Apa yang dilakukan Habib Bugak bukan sekadar memberikan harta, tapi meletakkan pondasi peradaban,” tutur Tgk. H. Asnawi, salah satu peserta yang juga aktif di bidang pendidikan Islam.

Menjadikan Ziarah Sebagai Gerakan Spiritual Kolektif

Bagi para jamaah haji, ziarah ini menjadi momen transisi dari fase haji menuju kembali ke medan dakwah di daerah masing-masing. Nilai-nilai yang mereka resapi di Tanah Suci ingin terus dibawa pulang, dipraktikkan, dan disebarluaskan.

Sejumlah peserta muda mengaku terinspirasi untuk lebih menggali sejarah lokal dan kiprah ulama Aceh di masa lampau. Mereka menilai bahwa figur seperti Habib Bugak bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan sumber semangat yang relevan hingga kini.

“Ziarah seperti ini membuka mata kita tentang bagaimana ulama-ulama kita membangun pondasi Islam di Aceh. Semoga kegiatan ini memicu gerakan kesadaran sejarah yang lebih luas,” ujar Muhammad Hafidz, salah satu peserta muda asal Tanah Luas.

Dengan semangat kebersamaan, refleksi spiritual, serta komitmen terhadap nilai perjuangan ulama, ziarah akbar ini berhasil menegaskan kembali pentingnya merawat warisan sejarah dalam bentuk nyata dan kolektif.

Berikan Komentar
error: Content is protected !!