Pedagang Eceran di Banda Aceh dan Aceh Besar Diduga Timbun BBM, Warga Panik dan Harga Melejit
Lingkanews.com | Banda Aceh — Sejumlah pedagang eceran di Banda Aceh dan Aceh Besar diduga menimbun BBM sejak Minggu, 30 November hingga Selasa, 2 Desember 2025. Aksi tersebut menciptakan kesan kelangkaan di tengah masyarakat dan memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Kondisi tersebut membuat warga panik karena distribusi BBM pascabencana belum sepenuhnya pulih. Antrean kendaraan terlihat mengular di berbagai SPBU, sementara penjual eceran menaikkan harga hingga dua kali lipat pada malam hari.
Dugaan Penimbunan Memicu Panic Buying
Warga mulai melaporkan bahwa pedagang eceran menghilang pada siang hari untuk menyembunyikan stok yang mereka miliki. Ketika antrean kendaraan di SPBU mulai padat, para pedagang muncul kembali dengan harga yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin sulit mendapatkan BBM dalam harga normal.
Seorang warga Banda Aceh, Jufri, menyampaikan bahwa ia terpaksa membeli BBM dari pedagang eceran karena antrean di SPBU memakan waktu berjam-jam. Ia melihat pedagang kembali berjualan saat situasi mulai tidak terkendali.
“Saya lihat antrean panjang di SPBU, tiba-tiba pedagang eceran jual lagi dengan harga mahal. Kita jadi curiga ada yang sengaja bikin masyarakat panik,” ungkap Jufri pada Senin, 1 Desember 2025.
Harga BBM Eceran Melonjak Hingga Rp24 Ribu
Pada puncak kelangkaan, harga BBM yang dijual oleh pedagang eceran di Banda Aceh dan Aceh Besar mencapai Rp20.000 hingga Rp24.000 per liter. Harga tersebut mulai terjadi sejak malam tanggal 30 November dan berlanjut hingga 2 Desember. Lonjakan ini membuat warga semakin tertekan, terlebih pascakondisi darurat banjir yang melanda beberapa wilayah.
Jufri mengaku tidak punya pilihan selain membeli BBM eceran karena kendaraan yang digunakannya harus segera diisi. Ia tidak dapat menunggu antrean SPBU yang mencapai ratusan meter. “Teungoh kondisi darurat lage nyoe harus tameuabeh,” ujar Jufri.
Pedagang Mengakui Jual pada Malam Hari
Seorang pedagang eceran di Banda Aceh, yang namanya disamarkan, mengakui bahwa ia sengaja berjualan pada malam hari. Ia mengatakan harga tinggi diterapkan ketika pengawasan aparat berkurang, sehingga pedagang merasa lebih leluasa menjual BBM di atas harga normal.
“Malam hari jual, siang nggak jual,” katanya singkat saat ditanya mengenai pola penjualan mereka. Pengakuan ini memperkuat dugaan bahwa penimbunan dilakukan secara terencana untuk mendapatkan keuntungan lebih besar.
Suplai BBM Berangsur Pulih Melalui Jalur Laut dan Udara
Distribusi BBM di Banda Aceh dan Aceh Besar sebelumnya terhambat akibat jalur darat yang rusak karena banjir dan longsor. Sejumlah truk pengangkut BBM terpaksa menunda perjalanan dan menunggu jalur aman. Kondisi ini berdampak langsung terhadap antrean panjang dan keresahan masyarakat.
Namun, mulai 1–2 Desember 2025, suplai BBM mulai pulih melalui jalur laut dan udara untuk mempercepat pendistribusian. BPH Migas memastikan bahwa stok BBM untuk Aceh tetap aman meski distribusi sempat terganggu.
“Kami melihat langsung proses distribusi yang dilakukan bertahap menyesuaikan akses yang tersedia. Dalam kondisi bencana seperti ini, konsumsi BBM yang wajar dari masyarakat sangat membantu agar suplai dapat dibagi secara merata,” kata Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, Senin, 1 Desember 2025.





