Menteri Teuku Riefky Harsya Dorong Pengaktifan Gedung Amanah sebagai Pusat Ekonomi Kreatif Aceh
Lingkanews.com | Banda Aceh — Pemerintah pusat menegaskan komitmen memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Aceh melalui pembangunan infrastruktur pendukung yang strategis. Salah satu langkah terbaru yaitu rencana pengaktifan kembali Gedung Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (Amanah) sebagai pusat kegiatan, kolaborasi, dan inkubasi para pelaku ekonomi kreatif di wilayah Aceh.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, memaparkan rencana itu saat menghadiri program akselerasi startup dan pelaku jasa TIK di Hotel Grand Permata Hati Syariah Banda Aceh pada Selasa, 25 November 2025. Ia menegaskan bahwa keberadaan fasilitas kreatif merupakan fondasi penting untuk menguatkan subsektor digital, aplikasi, film, dan industri kreatif lainnya di Aceh.
Proses Serah Kelola Gedung Amanah kepada Pemda Aceh
Teuku Riefky menjelaskan bahwa gedung Amanah sebelumnya berada dalam pengelolaan Badan Intelijen Negara (BIN). Pemerintah pusat saat ini telah membahas status gedung tersebut secara langsung untuk memastikan proses pengalihan dan pemanfaatannya berjalan baik.
“Kami sudah bertemu Kepala BIN. Gedung itu sedang diperbaiki karena sempat mengalami kerusakan, dan kami minta agar bisa diserahkan ke Pemda,” ujar Teuku Riefky.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan Gedung Amanah akan melibatkan Pemerintah Kota Banda Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. Lokasi gedung berada di wilayah Aceh Besar, sementara aktivitas dan basis komunitas ekonomi kreatif berada di Banda Aceh. Karena itu, kedua pemerintah daerah diharapkan mengambil peran strategis dalam pengoperasian gedung tersebut.
“Tentu nanti melibatkan Pemda Banda Aceh dan Aceh Besar,” tambahnya.
Sinergi Fasilitas Kreatif Banda Aceh dan Pemerintah Pusat
Selain Gedung Amanah, Menteri Teuku Riefky menyinggung kesiapan Pemerintah Kota Banda Aceh terkait dukungan infrastruktur kreatif. Ia menyampaikan bahwa Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal telah menyiapkan gedung khusus sebagai ruang aktivitas kreatif yang akan diintegrasikan dengan program kementerian.
“Bu Wali Kota, Illiza juga sudah menyiapkan gedung untuk kegiatan kreatif. Nanti akan diatur pembahasan bersama Pak Wamen Komdigi, Nezar Patria agar bisa diaktifkan dan dimaksimalkan,” katanya.
Ia menekankan bahwa integrasi fasilitas kreatif tersebut akan membuka ruang kolaborasi lintas subsektor, mulai dari aplikasi, film, kriya digital, hingga produk kreatif komersial. Aceh diharapkan mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kreatif baru di bagian barat Indonesia.
Penguatan Ekosistem Digital dan Peluang Investasi Aplikasi
Menteri Teuku Riefky menambahkan bahwa program akselerasi startup TIK menjadi pintu masuk bagi pelaku digital Aceh untuk naik kelas dan membangun kemitraan dengan industri nasional dan internasional.
“Tindak lanjutnya nanti, insya Allah, salah satunya akan ada yang menjadi partner bisnis. Pola seperti itu yang akan kita lakukan, bukan hanya pada sektor aplikasi, tetapi juga subsektor digital lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penguatan ekosistem kreativitas Aceh dilakukan melalui kurasi bersama dengan pemerintah daerah. Pemilahan potensi unggulan menjadi bagian penting untuk mempersiapkan pelaku lokal menuju pasar nasional serta mendapatkan akses pendanaan.
“Pemda lebih tahu potensi daerah. Kami mendampingi untuk memilih mana yang siap didorong ke tingkat nasional, termasuk akses pendanaan dan akses pasar,” jelasnya.
Aceh Jadi Perhatian Industri Teknologi Internasional
Menteri Teuku Riefky memaparkan bahwa berdasarkan laporan BKPM, investasi terbesar dalam sektor ekonomi kreatif nasional saat ini berasal dari subsektor aplikasi, disusul subsektor fashion dan kriya. Tingginya minat investor menunjukkan bahwa sektor aplikasi saat ini menjadi pusat perhatian dunia.
“Dunia teknologi aplikasi internasional saat ini sedang menaruh perhatian besar pada potensi anak-anak muda Indonesia,” ungkapnya.
Ia memberikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh yang dinilai berhasil mendorong pertumbuhan pesat di sektor ekonomi kreatif. Program akselerasi Jasa TIK Aceh merupakan salah satu dari lima agenda besar Kolaborasi Kreatif Aceh 2025, yang juga mencakup subsektor fashion, kriya, film, dan aplikasi.
“Tujuannya adalah mencetak pelaku ekraf kabupaten/kota agar siap masuk pasar nasional dan internasional. Kita ingin produk Aceh dikenal dunia,” tutup Teuku Riefky.





