Isa Alima Kecam Keras Praktik Prostitusi Anak di Aceh Selatan: “Ini Tamparan bagi Kita Semua”
Lingkanews.com | Banda Aceh — Tragedi kemanusiaan kembali mencoreng Aceh Selatan. Seorang siswi SMA menjadi korban eksploitasi seksual. Jaringan perdagangan manusia diduga memaksa remaja itu menjadi pekerja seks komersial. Akibat kejadian ini, pihak kepolisian telah menangkap tiga orang yang diyakini terlibat dalam praktik keji tersebut.
Tokoh sosial dan budaya Aceh, Drs. Isa Alima, menyampaikan kecaman keras atas kasus ini. Ia tidak hanya mengkritik pelaku, tetapi juga menyoroti lemahnya perlindungan terhadap anak-anak di tengah masyarakat.
“Bukan Sekadar Kriminal, Ini Luka Sosial Mendalam”
Isa Alima menyampaikan pernyataan terbuka pada Sabtu (26/7). Ia menegaskan bahwa kejadian ini bukan hanya masalah hukum, tetapi cermin kegagalan sosial secara menyeluruh.
“Ini bukan hanya kriminal, ini adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur masyarakat Aceh. Anak-anak adalah amanah, bukan komoditas. Apa yang terjadi di Aceh Selatan adalah tamparan keras bagi kita semua — keluarga, masyarakat, bahkan pemerintah,” ucap Isa dengan nada geram.
Menurutnya, praktik ini terjadi karena pengawasan sosial melemah. Selain itu, masyarakat cenderung menormalisasi kekerasan simbolik terhadap anak perempuan. Hal ini, kata Isa, harus segera dihentikan agar nilai kemanusiaan tidak semakin terkikis.
Seruan Tindakan Menyeluruh: Tak Cukup Sekadar Menangkap
Lebih lanjut, Isa Alima meminta pemerintah bertindak cepat dan menyeluruh. Ia mendorong Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta aparat penegak hukum untuk tidak berhenti pada penangkapan pelaku. Menurutnya, pembongkaran jaringan perdagangan manusia harus menjadi prioritas.
“Kita harus bicara soal pencegahan, pendidikan nilai moral, penguatan ekonomi keluarga, hingga pengawasan sosial. Ini bukan hanya soal hukum, tapi soal keadaban bersama,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia menilai perlu evaluasi menyeluruh terhadap program perlindungan anak. Meskipun pemerintah telah memiliki unit-unit perlindungan, Isa melihat pendekatannya masih reaktif. Di sisi lain, kesenjangan ekonomi juga berperan besar membuka celah kejahatan.
Martabat Korban Harus Dipulihkan Secara Utuh
Isa juga menekankan pentingnya perlindungan dan pemulihan bagi korban. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memperlakukan korban sebagai sumber aib. Sebaliknya, korban harus mendapatkan dukungan moral dan bantuan rehabilitasi secara menyeluruh.
“Korban bukan hanya butuh perlindungan hukum, tapi juga pemulihan martabat. Ia bukan aib, melainkan korban dari sistem yang gagal menjaga masa depannya,” tutur Isa.
Bahkan, menurutnya, korban eksploitasi harus dipandang sebagai cerminan kegagalan kolektif masyarakat. Oleh karena itu, semua pihak bertanggung jawab membangun ruang aman bagi anak-anak. Terlebih lagi, dalam konteks Aceh yang menjunjung tinggi syariat Islam, setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan bermartabat.
Perkuat Keluarga, Bangkitkan Kesadaran Kolektif
Isa mengajak semua elemen untuk tidak tinggal diam. Ia menilai penguatan keluarga sebagai benteng utama sangat krusial. Selain itu, sekolah, tokoh adat, tokoh agama, dan komunitas harus bahu-membahu menjaga moral anak-anak.
“Aceh adalah negeri syariat, tapi kita tidak akan menjadi negeri yang berkah jika membiarkan kezaliman terjadi pada generasi mudanya,” tegasnya.
Menurut Isa, masyarakat harus menghentikan sikap permisif terhadap kekerasan terhadap anak. Ia pun mengingatkan bahwa kebisuan publik hanya akan memperpanjang penderitaan korban. Akibatnya, generasi muda kehilangan arah dan masa depan yang seharusnya mereka miliki.
Penutup
Kejadian memilukan di Aceh Selatan bukan hanya berita kriminal biasa. Peristiwa ini menggugah nurani dan menuntut aksi nyata. Isa Alima telah mengingatkan, jika satu anak saja menjadi korban, maka seluruh sendi sosial perlu diperiksa ulang.
Oleh karena itu, masyarakat, pemerintah, dan tokoh agama harus berdiri di garis depan melawan eksploitasi. Kita tidak bisa lagi menunggu. Sudah saatnya Aceh membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dan kemanusiaan tidak hanya hidup dalam narasi, tetapi nyata dalam tindakan kolektif.