Seruan Mendesak dari Pidie: Pemerintah Diminta Terbangkan Bantuan Melalui Helikopter ke Wilayah Terisolir yang Terancam Kehabisan Logistik

Drs. M. Isa Alima

Lingkanews.com | Pidie — Pemerhati publik Isa Alima mendesak pemerintah segera memprioritaskan penyelamatan warga di wilayah yang masih terputus akses buntut banjir besar yang melanda Aceh. Ia memperingatkan bahwa sejumlah daerah terisolir menghadapi ancaman kelaparan, ketiadaan penerangan, serta minimnya komunikasi yang membuat warga seolah hilang dari jangkauan dunia luar.

Isa menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan menunggu perbaikan akses darat. Ia meminta pemerintah menurunkan armada helikopter untuk memastikan bantuan pangan, sandang, penerangan, dan relawan tiba secepatnya ke daerah-daerah yang terjebak dalam isolasi total.

Wilayah Terisolir Masih Belum Terjangkau Bantuan

Pantauan lapangan memperlihatkan bahwa beberapa kawasan mengalami kerusakan berat pada infrastruktur jalan dan jembatan sehingga akses bantuan terhenti. Warga terpaksa bertahan dengan sisa logistik yang diperkirakan hanya cukup untuk satu hingga dua hari.

Kampung-kampung yang tertutup longsor, pemukiman yang kini terpisah seperti pulau kecil, serta lembah yang terputus dari segala arah mengakibatkan masyarakat hidup tanpa jaminan pangan, air bersih, dan kabar dari luar. Kondisi gelap total pada malam hari menambah kecemasan warga yang sudah kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.

Desakan Penggunaan Helikopter untuk Menembus Lokasi Kritis

Dalam keterangannya, Isa Alima menilai penggunaan helikopter menjadi satu-satunya opsi tercepat untuk menjangkau lokasi-lokasi tersebut. Ia meminta agar Pos Komando Penanganan Bencana mengikutsertakan relawan untuk turun langsung membawa bantuan dan melakukan pemetaan situasi secara cepat.

“Kalau daerah-daerah yang mudah dijangkau, itu bisa menyusul. Yang terisolir ini, sedikit kurang awas saja, masyarakat di sana bisa mati kelaparan,” ujar Isa dengan nada tegas.

Ia juga meminta agar bantuan diterbangkan sesegera mungkin dan tidak terhambat oleh proses administratif. Menurutnya, keterlambatan dapat berakibat fatal bagi warga yang kini menggantungkan harapan pada kehadiran negara.

Tantangan yang Dihadapi Warga di Daerah Terputus

Warga terdampak menghadapi empat masalah pokok yang berpotensi mengancam keselamatan: kelangkaan pangan, hilangnya sandang, ketiadaan penerangan, dan putus totalnya komunikasi. Tanpa jaringan, warga tidak dapat meminta pertolongan atau menyampaikan kondisi terkini.

Malam-malam yang gelap tanpa penerangan membuat warga, terutama anak-anak dan lansia, berada dalam kondisi rawan. Dalam beberapa titik, masyarakat membuat api seadanya untuk menghindari hawa dingin dan menjaga keamanan lingkungan sekitar.

Harapan agar Negara Hadir Sebelum Harapan Warga Redup

Isa menutup seruannya dengan mengingatkan bahwa bencana besar membutuhkan koordinasi yang cepat dan menyeluruh. Ia meminta semua unsur — pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, dan relawan — bergerak dalam satu komando agar penanganan lebih efektif.

“Ketika suara warga tak bisa keluar dari gelap, maka negara mesti masuk membawa terang,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa setiap detik sangat berharga bagi saudara-saudara yang masih terkurung bencana. “Aceh sedang diuji. Jangan biarkan saudara-saudara kita menunggu sampai harapan mereka redup. Terbangkan bantuan sekarang, ke semua tempat yang masih terkurung oleh bencana.”

Berikan Komentar
error: Content is protected !!